Selasa, 02 November 2010

Australia Masih Kaji Tumpahan Minyak Montara

Tumpahan minyak Montara. (Foto: wendmag.com)
JAKARTA - Satu tahun lebih kasus tumpahan minyak milik perusahaan Australia di Perairan Laut Timur Indonesia tak menemui titik temu.

Juru Bicara Kepresidenan Bidang Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan, saat ini pihak perusahaan milik Australia itu sedang melakukan kajian mendalam dan melengkapi data-data terkait masalah ini.

"Ini memang isu yang tidak mudah, assessment sudah dilakukan tingkat kerusakan sudah coba didata oleh kedua pemerintah. Tentunya ini bukan hanya persoalan yang melibatkan antar pemerintah kita dan pemerintah Australia, tapi juga dengan perusahaan Australia yang bersangkutan," terang Faizasyah di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (2/11/2010).

Faizasyah mengakui jika mengenai ganti rugi atas kerugian tumpahan minyak di wilayah Indonesia itu belum pernah dibahas oleh pihak Australia.

"Tentunya sebagai perusahaan kan mereka memiliki motivasi sendiri supaya tidak membayar kompensasi maksimal, tapi kita akan coba dorong agar kompensasinya secara maksimal  untuk kepentingan masyarakat kita," jelasnya.

Ketegasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai perlunya negara yang berhak menerima kompensasi, masih ditindaklanjuti pihak Australia.

"Pihak Australia dalam hal ini perusahaan asuransinya meminta background informasi dari pemerintah Australia. Jadi sedang ditindaklanjuti," pungkasnya.(hri)

Senin, 01 November 2010

2.500 Sapi di Kawasan Merapi Kekurangan Makanan

Petugas peternakan dari UGM merawat sapi di Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. (Foto: Koran SI)
YOGYAKARTA - Sekira 2.500 ekor sapi di kawasan Gunung Merapi diperkirakan mengalami kekurangan pakan sejak erupsi Selasa 26 Oktober lalu.

Sapi-sapi dan hewan ternak lainnya banyak yang ditinggal pemiliknya mengungsi. Rumput-rumput di sekitar permukiman kurang memungkinkan untuk dimakan karena tertutup abu vulkanik Gunung Merapi.

“Kalau menggantungkan pada rumput di sana tidak memungkinkan dengan cepat karena tertutup abu vulkanik Gunung Merapi,” papar Ketua Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Cabang Yogyakarta, Ali Agus, Senin (1/11/2010).

Ali mengatakan kondisi pakan ternak khususnya sapi sering tidak mendapat perhatian dan lebih mengutamakan penanganan manusianya. Menurutnya, kebutuhan pakan ternak sapi di daerah bencana Merapi diperkirakan mencapai sekira 50 ton rumput per hari.


Sedangkan untuk konsentrat dibutuhkan rata-rata lima kilogram per ekor per hari, sehingga total kebutuhan konsentrat mencapai sekira 12,5 ton per hari untuk 2.500 sapi.

“Selain diperlukan untuk pakan ternak dari hijauan seperti rumput kita juga distribusikan konsentrat untuk ternak sapi ini,” ungkap Ali.

Dijelaskan Agus distribusi pakan ternak dari ISPI tersebut telah dilakukan sejak Jumat, 29 Oktober lalu. Setiap hari pihaknya mengirimkan setidaknya satu truk berisi jerami, terutama di daerah Cangkringan dan Purwobinangun. Sedangkan konsentrat yang dikirim mencapai satu ton per hari.

“Jerami dan hijauan sebagian didatangkan dari luar Yogyakarta seperti Boyolali dan Klaten,” ucapnya.

BBM Langka di Mentawai


Ilustrasi. Kapal Tangker pengakut BBM (Foto: Koran SI)
PADANG - Tidak hanya penyaluran bahan makanan, tenda, dan obat-obatan yang terhambat cuaca ekstrim, tapi juga bahan bakar minyak (BBM) sulit disalurkan ke Kepulauan Mentawai. Akibatnya, BBM menjadi barang langka di sana.

Hal itu dikatakan Koordinator Lumbung Derma, Yosep Sarokdog kepada okezone di Sumatera Barat, Senin (1/11/2010). "Memang kita sulit untuk menyalurkan logistik ke beberapa daerah selain terkendala cuaca badai, kita tersendat ketersediaan BBM karena banyak yang pakai BBM," katanya

Yosep meminta pemerintah segera mengupayakan penyaluran BBM yang tengah dibutuhkan warga, dilakukan dari Padang ke Mentawai. "Di upayakan pihak pemerintah untuk menyalurkan BBM dari Padang ke Mentawai," katanya.

Senada dengan Yosep, Kepala dinas perindustrian, perdagangan, koperasi dan UKM Mentawai, Martinus membenarkan kelangkaan BBM disebabkan penyaluran yang dilakukan kapal terhambat oleh badai yang terjadi di laut.

"Kapal yang datang dengan BBM dari Pandang ke Mentawai harus berputar-putar, tidak mampu untuk menghadapi badai," kata Martinus

Martinus mengatakan kapal tersebut mengangkut bahan bakar untuk kebutuhan agen-agen Pertamina di Mentawai. Bahan bakar tersebut dibutuhkan kendaraan speed boat yang banyak digunakan warga.

"Kapal yang akan masuk melalui agen-agen pertamina membawa 6 ton jenis premium, 4 ton solar, dan 10 ton minyak tanah," tambahnya. (opx)(ful)

Wedhus Gembel Menerjang, Warga Dusun Jambu Mengungsi

Awan panas atau wedus gembel (Foto: Koran SI)
YOGYAKARTA -  Gunung Merapi hari ini menunjukkan keaktifannya. Akibat letusan Senin pagi membuat sejumlah pengungsi yang ada di sekitar gunung mengungsi di Posko Kepuharjo, Sleman.

Berdasarkan data di lapangan, sesaat setelah letusan tadi pagi warga yang berada di Dusun Jambu langsung mengungsi, Senin (1/11/2010). Dusun Jambu adalah dusun kedua terdekat dengan puncak Merapi.

Sementara itu abu vulkanik terus mengguyur wilayah tersebut. Sejumlah tim evakuasi terus melakukan imbauan dan penyisiran di sejumlah dusun agar warga mau diungsikan.

Sebelumnya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPPTK) mencatat salah satu gunung paling aktif di dunia itu mengeluarkan letusan sebanyak tiga kali, hingga pukul 10.20 WIB.

Letusan pertama terjadi pada pukul 10.03 WIB disusul letusan awan panas terjadi ke arah timur. Letusan kedua terjadi pada pukul 10.10 WIB dan ketiga pada 10.20 WIB dengan tinggi asap yang membumbung ke angkasa mencapai dua kilometer.(Dwi Cahyo/SUN TV/kem)

Bit-Chan Tersandera Status Tersangka


Bibit & Chandra. (Foto: Heru Haryono/okezone)
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi Hukum DPR Tjatur Sapto Edy menilai keputusan mengesampingkan perkara (deponeering) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah tidak memberi kepastian hukum. Alasannya, dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi itu tetap berstatus tersangka selamanya.

"Dengan deponeering, maka status Bibit Chandra tetap menjadi tersangka selamanya," kata Tjatur saat dihubungi okezone, Senin (1/11/2010).

Tjatur berpendapat langkah hukum deponeering sama halnya dengan surat ketetapan penghentian penuntutan (SKPP). "Akan lebih memberi kepastian hukum kalau tidak cukup bukti diberikan SKPP dengan alasan tidak cukup bukti atau ke pengadilan kemudian dituntut bebas," jelas dia.

Wakil Ketua Fraksi PAN ini meminta, Kejaksaan Agung segera meminta pertimbangan lembaga negara seperti DPR, MA, termasuk Presiden untuk menjadi pertimbangan dalam putusan deponeering.

"Kita hormati keputusan Kejagung, tetapi deponeering harus tetap memperhatikan saran-saran badan kekuasaan negara," tutupnya.(hri)

Gayus Siap Beri Bukti Fisik Soal Retut Bocor


Gayus Tambunan (Foto: Heru H/okezone)
JAKARTA - Terdakwa kasus mafia pajak, Gayus Tambunan siap memberikan bukti fisik keterlibatan Haposan Hutagalung terkait dengan bocornya rencana penuntutan (rentut) yang disampaikannya beberapa waktu.

 ”Ada buktinya, bentuknya fisik,” ujar Gayus sebelum persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin (1/11/2010).

Dirinya juga mengakui bahwa siap jika bukti tersebut diminta oleh pihak yang berwenang, untuk memperjelas bahwa Haposan yang bekerja sama dengan Kejaksaan Agung.

”Saya siap sekali. Nanti saya akan sekalian menyerahkan bukti Haposan minta uang,” dia menambahkan.

Seperti diketahui, Gayus memberikan uang kepada Haposan Hutagalung untuk mengurus rentutnya sebesar Rp500 juta.
(lsi)

Sabtu, 30 Oktober 2010

Bencana Merapi Buat Warga Magelang Makin Rukun

Pengungsi Gunung Merapi (Foto: Koran SI)
JAKARTA- Kesulitan bertahan hidup akibat bencana meletusnya Gunung Merapi tidak membuat kehidupan masyarakat Magelang berubah. Mereka tidak mementingkan kepentingannya masing-masing, yang terjadi kerukunan antar warga malah semakin erat.

Hal ini ditunjukkan warga setempat dengan menjaga keamanan kampung dan memberi pakan ternak secara bergantian setiap harinya.

"Kemarin itu sempat ada isu di daerah Boyolali salah satu rumah mengalami pencurian, mendengar isu itu warga langsung berinisiatif untuk menjaga kampung secara bergantian," kata Kasubdit Penyelamatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Heri Prawoto saat dihubungi okezone Minggu (31/10/2010).

Bekerja sama dengan TNI dan Polri, berangkat siang hari warga secara bergantian berangkat dari barak pengungsian ke kampung untuk memberi pakan ternak dan pada malam harinya melakukan pengamanan kampung.

"Awalnya mereka sangat memikirkan kehidupan ternak mereka, walaupun status gunung merapi masih awas mereka tetap nekat," terangnya.

Bersyukur sampai saat ini belum ada pihak yang mencari keuntungan ditengah kesulitan warga Magelang dengan cara mencuri.(ful)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management